Pertengkaran antara kakak-beradik di rumah kadang menjadi pemandangan yang tidak aneh ya, Moms. Data menunjukkan, anak-anak dengan usia 2 – 9 tahun rata-rata bertengkar dengan saudaranya sebanyak delapan kali dalam satu jam dengan durasi pertengkaran sekitar 45 detik. Pertengkaran antarsaudara umumnya disebabkan oleh komunikasi yang buruk, atau kurangnya komunikasi itu sendiri. Walau begitu, pertengkaran merupakan tahap tumbuh kembang si Kecil dalam melatih kemampuan interpersonal, emosi, tingkah laku, serta fisik dan mental. 

Pada kasus pertengkaran sederhana, Moms perlu berperan sebagai pengarah dalam penyelesaian konflik, bukan menghindarkannya. Dengan begitu, anak akan belajar cara memecahkan masalah. Misalnya, dengan berlaku adil pada tiap anak, tidak terus membela satu anak, mengenalkan sistem bergantian (pada mainan, misalnya), menumbuhkan empati, mengajarkan sudut pandang lain pada anak, mendorong pemecahan masalah dengan solusi win-win, artinya semua pihak andil dalam membuat solusi.

Bila pertengkaran berlanjut dan tidak diselesaikan dengan cara yang bijak, timbul masalah baru, Moms, yaitu persaingan antara kakak-beradik. Justru perasaan ini tidak terlihat—dibanding pertengkaran fisik—namun, efeknya bisa berlanjut dalam jangka panjang jika terus dipupuk dan tak terdeteksi oleh Moms sebagai orangtua. 

Menurut Amy McCready, pendiri Positive Parenting Solutions, persaingan saudara adalah masalah besar yang memengaruhi sebagian besar keluarga. Malah, sadar tidak sadar, orang tua-lah yang justru menanamkannya melalui tindakan, seperti memberi label pada anak, kurang memberi perhatian pada salah satu anak, termasuk terlalu cepat mengambil kesimpulan saat anak-anak bertengkar. 

Berikut adalah tiga langkah menurut McCready, untuk mengurangi kemungkinan munculnya persaingan yang tak sehat di antara anak-anak Moms: 

Menghilangkan label

Walau tiap anak memiliki kapasitas dan ketertarikan yang berbeda-beda, namun di awal pertumbuhannya, sebaiknya Moms tidak melabeli mereka, misalnya “si doyan makan”,  “si atlet”, “si nakal”, “si pemalu”, dan lainnya, karena secara tidak sengaja Moms telah membuat perbandingan di antara anak-anak yang memicu persaingan. Anak akan merasa kecil hati dan tidak akan berusaha untuk berubah. Misalnya, “si anak bandel” akan terus bersikap bandel dan tidak mau berusaha memperbaiki diri untuk menjadi anak yang lebih manis, karena toh,  apa pun yang dilakukannya, ia tetap dilabeli “anak bandel”. Selain itu, bisa jadi muncul perasaan superior pada anak lain yang “tidak bandel”. Pemberian label dapat menutup kesempatan anak untuk berubah dan berkembang, terutama bila usianya belum matang secara emosional.

Memberi perhatian yang cukup

Salah satu alasan utama anak bertengkar adalah untuk mendapatkan perhatian orangtua. Bagi anak-anak, bahkan perhatian negatif lebih baik daripada tidak diperhatikan. Maka itu, cobalah untuk memusatkan perhatian pada anak setidaknya 10 – 15 menit dalam sehari. Manfaatkan waktu ini untuk meningkatkan koneksi emosional.

Mengatasi konflik dengan respek

Salah satu metode menyelesaikan konflik di antara anak umumnya menggunakan time-out, di mana anak-anak dipisah untuk menenangkan mereka. Metode ini tidak akan mengajarkan mereka untuk menyelesaikan masalah di masa depan, karena akan terpendam. Sebaliknya, Moms dapat mengajarkan resolusi konflik melalui role modeling, contohnya:

-Mempraktikkan komunikasi yang saling menghargai

Sebagai akar masalah pada anak-anak, Moms dapat mengajarkan tiap anak untuk berkomunikasi dengan baik dan saling menghargai, misalnya, “aku boleh ikut main atau tidak?” atau “aku masih menggunakannya, nanti aku pinjamkan kalau sudah selesai,”  Selain memperbaiki cara komunikasi, Moms juga mengajarkan anak-anak untuk mencapai persetujuan melalui komunikasi

-Mengajarkan untuk mengungkapkan perasaan

Ketika mereka bertengkar, ajarkan untuk mengekspresikan perasaannya atas konflik yang terjadi.  Misalnya, “aku kesal ketika kakak tidak memperbolehkan aku ikut main” atau “aku merasa sakit ketika adik memukulku”. Dengan begitu, anak-anak dapat jujur sekaligus mengenali perasaannya sendiri.

-Mengajarkan untuk mengontrol emosi

Terkadang anak belum siap dan tenang untuk mendiskusikan konflik yang terjadi. Untuk menanggapinya, Moms dapat memberikan mereka waktu untuk menenangkan diri. Bila situasi masih panas, anak-anak cenderung emosional atau tantrum. Ini merupakan waktu yang tepat untuk mengajarkan anak mengelola emosinya.