Madu memang terkenal dengan sejuta manfaatnya, termasuk untuk menjaga kesehatan. Hampir semua kalangan dapat mengonsumsinya.Namun Moms hati-hati ketika memberikan madu pada si Kecil yang masih berusia di bawah satu tahun. 

Menyebabkan botulisme

Madu sering terkontaminasi oleh spora bakteri Clostridium botulinum. Spora ini dapat menyebabkan penyakit botulisme jika tertelan dan berkembang biak di dalam usus bayi.  Botulisme adalah penyakit serius dan langka, disebabkan oleh racun yang menyerang saraf tubuh. Biasanya gejalanya dimulai dengan melemahnya otot yang mengontrol mata, wajah, mulut, dan tenggorokan, serta dapat menyebar ke leher, lengan, dada, dan kaki.

Botulisme juga dapat menyebabkan melemahnya otot-otot pernapasan sehingga menyebabkan kesulitan bernapas dan berujung pada kematian. Gejala awal botulisme ditandai dengan pandangan berganda, kabur, kelopak mata terkulai, bicara menjadi cadel, kesulitan menelan dan bernafas, lidah terasa tebal, mulut kering, dan melemahnya otot. 

Sementara, botulisme pada bayi dikenali dengan tanda-tanda, bayi tampak lesu, makannya tidak seperti biasa, sembelit, tangisannya lemah, dan otot terkulai.

Cara penyebaran botulisme:

Terdapat lima jenis botulisme berdasarkan cara penyebarannya, yaitu:

  • Botulisme pada bawaan makanan

Botulisme jenis ini terjadi melalui konsumsi makanan yang telah terkontaminasi racun botulinum. Racun ini tidak menimbulkan bau atau rasa tidak enak pada makanan. Penyakit ini paling sering berkembang setelah mengonsumsi makanan kaleng yang diproses secara tidak benar atau daging yang diawetkan di rumah. Makanan dengan kandungan asam yang rendah yang dikalengkan adalah sumber yang cukup umum menjadi penyebab botulisme, seperti asparagus, buncis, buah bit, jagung, dan kentang.

  • Botulisme akibat luka

Botulisme akibat luka dapat terjadi ketika spora bakteri masuk ke dalam luka dan menjadi racun. Kemungkinan berisiko lebih tinggi menginfeksi pengguna narkotika yang memakai jarum suntik. Bisa juga terjadi pada orang setelah mengalami cidera traumatis, seperti kecelakaan.

  • Botulisme pada bayi

Penyakit ini dapat menginfeksi bayi jika bakteri spora masuk dan tumbuh di ususnya, lalu memproduksi racun yang menyebabkan botulisme. Salah satunya dalam madu, menurut WHO madu tidak aman untuk bayi. Selain itu, madu juga tidak boleh dijadikan campuran pada apa pun yang dikonsumsi bayi di bawah usia satu tahun karena lebih berisiko.

  • Toksemia usus pada orang dewasa

Mirip dengan botulisme pada bayi, spora botulisme juga dapat masuk, berkembang, dan memproduksi racun di dalam usus orang dewasa, Moms.  

  • Botulisme latrogenik

Botulisme jenis ini dapat terjadi ketika terlalu banyak racun botulisme yang disuntikkan pada kosmetik, seperti krim untuk keriput, atau alasan medis, seperti obat untuk sakit kepala migrain.

Pengobatannya secara medis diawali dengan beberapa tes, yaitu scan otak, pemeriksaan cairan tulang belakang, tes fungsi saraf dan otot, dan tes tensilon untuk mendiagnosis kondisi myasthenia gravis, yaitu melemahnya otot akibat gangguan saraf. Setelahnya dokter akan memberikan antitoksin dan perawatan lanjutan.

Moms juga dapat melakukan pencegahan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti menghindari makanan dengan kemasan yang sudah rusak, makanan diawetkan yang mengeluarkan bau, makanan yang disimpan pada suhu yang tidak sesuai, dan makanan kadaluarsa.

Pada si Kecil di bawah satu tahun, sebaiknya hindari memberikannya madu. Jika ingin memberikan manfaat madu pada si Kecil, Moms dapat mengonsumsi madu dan menyalurkannya lewat ASI.