Bagaimana puasanya, Moms? Sudah ada yang batal? Perempuan pada umumnya tidak puasa penuh sebulan di bulan Ramadan karena haid. Selain ibadah puasa, menstruasi juga menghalangi perempuan untuk menunaikan ibadah sholat. Bagi Moms yang tidak berpuasa karena datang tamu bulanan, seringkali di depan anak harus ‘pura-pura puasa’ dengan ikut sahur, berbuka bahkan menahan haus dan lapar di siang hari, demi menghindari pertanyaan si Kecil yang susah-susah gampang untuk dijelaskan. Sepintas tindakan ini mungkin bisa dibenarkan. Tapi, bersikap terbuka dengan kondisi Moms jauh lebih baik dibandingkan menyembunyikannya. Bukankah orang tua ingin anaknya tumbuh memiliki empati dan menghormati perempuan dan manusia pada umumnya? Lantas, bagaimana menjelaskannya pada anak? 

 

Memberi tahu yang sebenarnya

Beberapa Moms menganggap anak kecil belum saatnya tahu, lalu kapan waktu yang tepat untuk menjelaskan? Moms dapat menjelaskan pada anak ketika mereka bertanya. Anak di sekitar usia tiga tahun kadang tidak menyadari atau tidak memedulikan ibunya puasa atau tidak. Namun, mereka berhak tahu ketika mereka bertanya, sehingga mereka tumbuh menjadi laki-laki yang memfasilitasi kemudahan bagi anak perempuan dan istrinya kelak, bukan yang tidak peduli. Begitu pula dengan anak perempuan, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai tubuh mereka sendiri dan menerima hak yang diberikan oleh Sang Pencipta. Bahwa perempuan tidak perlu malu atas fungsi biologis tubuhnya.

 

Menggunakan istilah anatomi yang benar

Menurut American Association of Pediatrics, mengajarkan si Kecil  dengan nama yang benar untuk kelamin adalah cara utama dalam mencegah pelecehan seksual pada anak. Sebenarnya, lebih mudah menjelaskan ‘dari mana bayi muncul’ pertama kalinya pada anak lima tahun dibanding 12 tahun dengan istilah sebenarnya. Sebagai tempat belajar pertama anak, orang tua dapat lebih memberi bias netral, bahwa edukasi seks itu perlu dan bukan hal yang tabu.

 

Membicarakan kedua gender secara imbang

Anak-anak perlu belajar bahwa tidak ada yang harus dipermalukan dalam mempelajari tubuh manusia yang telah Tuhan ciptakan dengan sempurna. Terutama penting untuk membicarakan tentang kedua gender, laki-laki dan perempuan, pada anak. Ia tidak hanya akan memahami gendernya sendiri, tapi juga meningkatkan rasa hormat dan pemahamannya terhadap gender lain.

 

Ini tidak hanya tentang menstruasi dan Ramadan, Moms, tapi juga tentang komunikasi dengan anak secara Sunnah. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menganjurkan untuk berbohong pada anak. Beliau juga tidak pernah menghindar dari pertanyaan apa pun.