Solusio Plasenta, penyebab kematian pada Ibu atau janin dalam kandungan

Beberapa waktu yang lalu mungkin Moms mendengar ada salah satu kasus dimana seorang publik figure kehilangan dua bayi kembarnya setelah mengalami preeklamsia. Alhasil bayinya mengalami stillbirth setelah plasenta bayinya lepas atau solusio plasenta.

Apakah sebenarnya solusio plasenta itu? Solusio plasenta atau abruptio placenta adalah kondisi plasenta yang lepas dari dinding rahim sebelum proses persalinan terjadi, baik sebagian maupun seluruhnya. Jika ini terjadi, bayi mungkin tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi di dalam rahim. Sang Ibu pun juga mungkin mengalami pendarahan serius. Solusio plasenta seringkali terjadi secara tiba-tiba. Pada banyak kasus, lepasnya plasenta ini kerap terjadi pada trimester ketiga kehamilan atau beberapa minggu menjelang waktu persalinan tiba.

 

Gejala Solusio Plasenta

Bagaimana gejalanya? Mengutip dari WebMD, Gejala utama yang menandai terjadinya solusio plasenta adalah perdarahan saat hamil. Meski demikian, bukan berarti semua perdarahan dari vagina saat hamil menandakan solusio plasenta. Banyak sedikitnya perdarahan bervariasi dan tidak serta-merta menunjukkan tingkat keparahan pelepasan plasenta yang terjadi.. Terkadang, darah terperangkap di dalam rahim.

Selain perdarahan, beberapa gejala lain yang menandai solusio plasenta adalah:

  • Nyeri perut atau punggung
  • Kontraksi rahim yang terjadi terus menerus.
  • Rahim atau perut terasa kencang.

Gejala solusio plasenta juga dapat muncul secara perlahan (kronis). Pada kondisi ini, tanda yang muncul adalah:

  • Perdarahan ringan yang sesekali terjadi.
  • Cairan ketuban sangat sedikit.
  • Pertumbuhan bayi lebih lambat dari kondisi normal.

 

Penyebab Solusio Plasenta

Hingga saat ini, penyebab pasti terjadinya solusio plasenta belum diketahui. Namun, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko wanita hamil mengalami solusio plasenta atau abruptio plasenta, yaitu:

  • Hamil pada usia di atas 40 tahun.
  • Merokok saat hamil atau memakai narkoba saat hamil.
  • Memiliki riwayat solusio plasenta sebelumnya.
  • Menderita preeklamsia atau eklamsia.
  • Ketuban pecah dini.
  • Mengalami cedera pada perut saat hamil.
  • Mengandung bayi kembar.

 

Diagnosis Solusio Plasenta

Bagaimana solusio plasenta didiagnosis? Jika terjadi pendarahan, harus segera pergi ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan melakukan tes darah, dan juga dapat melakukan USG untuk melihat kondisi di dalam rahim. Namun, USG tidak selalu menunjukkan lepasnya plasenta.

 

Penanganan Solusio Plasenta

Bagaimana penanganannya? Penanganan  solusio plasenta tergantung pada kondisi janin dan Ibu hamil, usia kehamilan, dan tingkat keparahan solusio plasenta. Plasenta yang sudah terlepas dari dinding rahim tidak bisa melekat kembali. Pengobatan lebih bertujuan untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Sang Ibu mungkin juga diberikan steroid untuk membantu paru-paru bayi berkembang lebih cepat. Namun jika hamil lebih dari 34 minggu, mungkin masih dapat melakukan persalinan pervaginam jika solusio plasenta tidak tampak parah. Apabila parah, akan segera diberi tindakan operasi caesar, mungkin juga akan membutuhkan transfusi darah.

 

Pencegahan Solusio Plasenta

Solusio plasenta atau abruptio placenta tidak dapat dicegah. Kendati demikian, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko dan mengantisipasi lepasnya plasenta. Upaya tersebut antara lain:

  • Tidak merokok dan tidak mengonsumsi narkoba, terutama saat hamil.
  • Menghindari aktivitas fisik berat saat hamil.
  • Rutin memeriksakan diri ke dokter kandungan selama hamil, apalagi jika hamil di atas usia 40 tahun.
  • Mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi yang seimbang.

Untuk itu penting banget Moms menjaga pola hidup sehat dan gizi seimbang agar bisa membantu mencegah solusio plasenta terjadi. Jangan lupa untuk selalu memeriksakan kandungan Moms setiap bulan, agar bila terjadi masalah bisa segera ditangani sedini mungkin.