Moms, salah satu dampak yang timbul akibat karantina di rumah adalah kenaikan berat badan yang berpotensi menjadi obesitas. Setidaknya, di bulan Ramadan ini makanan yang masuk ke tubuh dapat sedikit terkontrol. Namun, secara umum terjadi peningkatan produksi dan konsumsi makanan dan minuman ‘cepat’ dan siap makan, atau disebut juga ultra-processed food.

 

Secara umum, pengolahan makanan dibagi menjadi empat, yaitu unprocessed atau minimally processed food, processed culinary ingredients, processed foods, dan ultra-processed food and drink products.

 

Unprocessed food atau bahan makanan alami meliputi bagian yang dapat dimakan dari tanaman dan hewan, misalnya buah, daun, daging, telur, susu, dan jamur. Sementara, minimally processed food adalah makanan alami yang mengalami proses pengeringan, penggilingan, penyulingan, pasteurisasi, pemasakan, pendinginan, pembekuan, pengemasan, atau fermentasi, tanpa ditambahkan garam, gula, minyak, maupun lemak.

 

Processed culinary ingredients adalah bahan makanan alami yang mengalami proses pengolahan lanjutan, seperti pengilangan, fortifikasi, dan penambahan vitamin dan mineral, serta bahan pengawet. Contohnya, garam dari air laut, gula dari tebu, dan mentega dari susu.

 

Processed foods merupakan proses olahan selanjutnya, bahan makanan ditambahkan gula, minyak, maupun garam, melalui proses pengawetan. Contohnya, sayur, buah, dan kacang-kacangan dalam kaleng, daging asap, ikan kaleng, sirup, keju, dan roti.

 

Ultra-processed food adalah bahan makanan yang diproses dengan skala industri dengan menambahkan gula, minyak, lemak, garam, antioksidan, stabilizer, dan pengawet. Fungsinya untuk menambah warna pada makanan, menguatkan rasa, memberi rasa manis dari pemanis buatan. Tujuannya untuk membuat produk siap saji. Contohnya, minuman berkarbonasi, keripik kentang, makanan ringan, es krim, cokelat, sereal, saus instan, hingga susu formula. Banyak yang merasa terbantu oleh makanan ultraproses karena kepraktisannya. Namun, tahukah Moms dampaknya bagi kesehatan?

 

Penelitian National Institute of Health di Amerika Serikat membuktikan bahwa orang yang mengonsumsi makanan ultraproses cenderung mendapat 508 kalori lebih tinggi dibanding makanan berbahan alami, serta mengalami peningkatan berat badan rata-rata 0,9 kilogram. Hal ini disebabkan oleh kandungan makanan ultraproses banyak mengandung karbohidrat, tinggi lemak, serta rendah protein dan serat. Itulah mengapa orang cenderung mudah lapar dan makan lebih banyak.

 

Sebaiknya, mulai batasi konsumsi makanan ultraproses ya, Moms. Demi menghindari efek lanjutan pada kesehatan, misalnya risiko obesitas dan kanker. Untuk meminimalkan mengonsumsi makanan ultraproses, trik berikut bisa Moms coba: 

 

Mengonsumsi masakan rumah

Memasak di rumah membuat Moms dapat mengontrol penggunaan bahan makanan yang lebih alami dan sehat, sebaiknya juga kurangi stok nugget atau makanan beku lainnya ya, Moms.

 

Memperbanyak makan bersama keluarga

Makan bersama keluarga dengan mengonsumsi masakan rumah terbukti menyehatkan fisik maupun mental. Selain itu, sebaiknya imbangi dengan mengurangi konsumsi camilan dan minuman kemasan saat momen kumpul keluarga. Kudapan tersebut dapat diganti dengan makanan yang lebih sehat, misalnya ubi atau kacang rebus.

 

Menyeleksi makanan

Ketika makan di luar sekeluarga atau bersama sahabat, usahakan tetap selektif dalam memilih restoran. Alih-alih restoran cepat saji, sebaiknya pilih restoran konvensional yang menggunakan bahan alami.